Minggu, 18 September 2016

Debat plongah-plongoh

     "Itu tampang atau buntelan kresek, ada apa gerangan?" sepertinya Hati risih karena melihatku.
     "Hm? memangnya ada apa dengan wajahku?" aku balik bertanya.

     Sejujurnya sejak semalam tadi pikiranku sedang gaduh. Antara diriku dan diriku yang lain sedang berdebat satu sama lain. Pikiranku tak pernah memberiku jeda untuk sekedar mengambil nafas. Pikiranku menghajarku tanpa ampun. Untungnya, berpikir adalah ibadah, jika tidak salah begitu yang aku tahu. Dan rukun beribadah hendaknya kita kembali suci, meng-nol-kan diri. 
     Maka dari itu, hal pertama yang harus dilakukan sebelum berdebat adalah berwudhu, mensucikan diri. Maksudnya, kita hilangkan dulu pikiran kita dari kebenaran-kebenaran yang sebelumnya kita yakini. Bukan berarti kita melupakannya, tidak begitu. Gampangnya, kita kembali lagi ke garis start agar kemudian lebih kencang berlari. 
     Mengapa harus begitu? Karena yang kita cari adalah objek kebenaran, bukan kebenaran objektif, apalagi kebenaran subyektif atau kebenaran sepihak. Inti dari perdebatan adalah proses dialektis-dinamis yang orientasinya tidak terutama kepada hasil, tetapi kepada kontinuitas pencarian tanpa batas.
     
     Tetapi, debat semalam suntuk itu melangkah terlalu jauh dan menjadi agak kelewatan.

     "Ampuun..ampuni hamba, hamba mohon ampun..", diriku ngguguk hingga sukar berkata-kata.
     "Percuma kau menangis." diriku yang lain menimpali.
     "Sebenarnya apakah yang engkau tangisi wahai diriku?" suara ini berasal dari diriku yang ketiga.
     "Halah, dia hanya cengeng, hatinya lemah, tak ada sisa setitik ketangguhan pun dalam dirinya." berkatalah diriku yang kedua.

     "Gembeng..!"

     "Cengeng..!"

     "Drama..! sini kalian semua, di sini sedang ada drama!"

     Diriku yang lain bersahut-sahutan.

     "Bodohnya aku, aku telah berbohong sepanjang hidupku, ini bukan tentang tangguh atau tidak tangguh, ini tentang aku yang telah berani berbohong, dan itu tak sekali, tetapi aku ulangi dan ulangi lagi."
     "Klasik. Sudah sejak lama aku mengenalmu sebagai pembohong." diriku yang kedua berkata sinis.
     "Sik, sik, diam kamu! Aku tanya sekali lagi, apa yang membuatmu menangis? dan kepada siapa kau berbohong?" tanya diriku yang ketiga.
     "Ampuuun.. ampuun", kata diriku masih terisak-isak, "aku telah berdosa karena berbohong kepada Tuhanku! dan itu tidak sekali, minimal 17 kali aku berbohong setiap hari."
     "Maksudnya bagaimana?"
     "Iyyaa ka na'budu, hanya kepada Engkau aku menyembah, itu yang aku ucapkan berkali-kali, dan ternyata kalimat itu malah mengotori mulutku sendiri. Yang kelamaan menjadi bakteri yang membuat sekujurku terinfeksi." diriku menjelaskan, masih terisa sedikit isak pada nada bicaranya.
     "Lho, bukannya itu adalah firman Tuhanmu, berani-beraninya kau berkata seperti itu, Jika ada yang kotor, itulah dirimu!" diriku yang ketiga malah naik pitam.
     "Tuh kan kamu juga ikut emosi, dia sudah jadi gila, tinggalkan saja, biarkan dia." kata diriku yang lain.
     "Ya jangan begitu, bagaimana pun ia juga dirimu, jika dia tidak selesai dengan hatinya, maka tak akan usailah keseluruhan kita." kata diriku yang entah keberapa.
     "Iyyaa ka na'budu.. aku ucapkan itu. Tetapi seringkali yang kusembah bukan Engkau, wahai Diri Sejati. Aku menyembah keinginanku, aku menyembah pribadiku, aku menyembah eksistensiku. Betapa dungu aku yang sering menyangka bahwa aku benar-benar ada, dan dengan tololnya hal itu aku gapai-gapai dengan sepenuh jiwaku. Kusingkirkan Engkau sebagai Diri Sejatiku."
     "Duh gustiii.. sungguh tolol diriku yang itu, aku mohonkan ampun kepadaMu."
     "Sungguh tiada yang selainMu, Laa ilaha, lalu siapa aku? yang berani mengaku bukan dirimu, yang telah berani memuja sesembahan selainMu."
     "Tunggu dulu! jika memang tidak ada yang selain Diri Sejatimu, berarti kau tidak melakukan kesalahan wahai diriku."
     "Tidak bisa begitu!" diriku tidak setuju,"memang benar bahwa tiada yang selain Dia, kesalahanku adalah ketidaksadaranku. Aku mabuk, aku melayang-layang, aku hanyut di dalam sungai keterlenaan nafsuku."
     "Nggak sadar gimana? semaput? unconscious?"
     "Bukan itu, kesadaranku tertutup oleh ketidakmampuanku meneguhkan kuda-kuda tauhidku." diriku menjelaskan.

     "Salah niat!"

     "Gagal paham!"

     "Lolaklolok!"

     Para diriku bersorak-sorai.

     Tak bosan-bosan alam pikiranku membolak-balik lembaran sejarah. Pangeran Sidharta mencapai maqam budha, yang bisa berarti kesadaran. Mundur lebih jauh lagi adalah "bapak tauhid" Ibrahim 'alaihissalam, yang  diperkenankan Tuhan untuk sedikit mengenal DiriNya. Dan yang paling dahsyat adalah Rasul Pamungkas, yang Tuhan menikahkan cintanya dengan cinta Muhammad kekasihku.
     Dengan paparan itu, apalah aku? siapalah aku? Aku tidak iri, Tuhan, tidak. Hanya mengecap, atau mungkin hanya membayangkan sedikit saja dari jalan yang pernah mereka lalui, hal itu lebih berharga daripada umurku.
   
     "Oh, jadi begitu." kata Si Hati.
   
      Aku menceritakan sedetail-detailnya kepada Si Hati. Dan tidak seperti biasanya, dia hanya manggut-manggut sesekali berdeham, entah karena dia yang sedang tidak sehat, atau menahan sengal nafasnya karena mendengar kalimat-kalimatku.
   
     "Sahabatku, yang aku pahami saat ini adalah: Anane ana, ya Gusti anane."
     "Hmm, ya, ya.." keanehan berikutnya, sahabatku Hati yang biasanya ngeyel, sekarang sama sekali tak tampak ketidaksetujuan pada sorot matanya,"yang penting jangan bermuka masam seperti itu." hati melanjutkan.
     "Abassa wa tawalla.." aku bergumam.
     "Heh, ia bermuka masam dan berpaling. Kalau itu buat Kanjeng Nabi, kalau sampeyan ya: Ia bermuka plongah-plongoh dan njeranthal."
     "Hahaha"

Tidak ada komentar:

Posting Komentar