Kamis, 15 September 2016

Terima kasih, adik kami, anak kami

     "Meeeeeew",

     Tentu suara ini dan wajahmu akan selalu hidup di dalam diriku. Memang orang tua kita, terutama bapak kita, mulanya tidak setuju jika aku mengajakmu bergabung dan menjalani hidup bersama keluargaku yang sekarang juga telah menjadi keluargamu.
     Namun karena kemanjaan, kepolosan, dan kadang kenakalanmu, lambat laun mereka pun menyukaimu, lalu mereka mencintaimu.
     "Eh, anak lanang pulang, minta makan? sini-sini...", ibu selalu gembira ketika menyapamu. Begitu pun bapak yang akan duduk dan mengelus kepalamu, bahkan ketika belum sempat beliau berganti pakaian sepulang lelah bekerja. Apalagi ketika kau sedang sakit, betapa paniknya kami. Betapa indah kehadiranmu.
     Aku masih ingat ketika setiap malam kau memilih tidur bersamaku, dan kau pula yang membangunkanku.
     Kami akan sangat rindu padamu. Tetapi, yang memilikimu tentu lebih sayang kepadamu. Inna lillahi wa inna ilaihi roji'un. Segala sesuatu adalah dari Allah, dan akan menuju Allah kembali.
     Kau tidak akan pernah mati, adikku, anakku, sahabatku. Tidak, tentu kau tidak akan beristirahat di sana. Mungkin di sini tugasmu sudah paripurna, tetapi Tuhan kita akan menugaskanmu di tempat bahkan dimensi yang lain. Dan aku sendiri meyakini, yang kau tebarkan selama ini adalah cinta, dan akan selalu begitu.
     Hanya satu, aku titipkan salamku kepada Penciptamu, Cahaya Maha Cahaya, juga kepada Cahaya yang Terpuji, kekasihku.
   
     Terima kasih, kami mencintaimu.
   
   

   

Tidak ada komentar:

Posting Komentar