"Laqad-jaa'akum rasuulum min-anfusikum 'azizun 'alaihi maa 'anittum harisun 'alaikum bil-mu'miniina ra'uufur-rahiim."
Hadir diantara kalian seorang rasul/utusan dari nafs-mu (kalanganmu) sendiri; sangat tidak tega melihat penderitaan kalian, amat perhatian terhadap kalian, belas-kasih terhadap orang-orang yang percaya. (QS At-Taubah: 128)
Betapa agungnya rasul Kekasih Allah. Seorang yang pada dirinya adalah welas-asih itu sendiri. Kekasih Allah yang pernah diwujudkan oleh-Nya sebagai manusia yang paling mengerti manusia, manusia yang memanusiakan manusia, manusia yang paling berperikemanusiaan. Sungguh setiap manusia pasti merindukannya. Ia berada di relung terdalam hatinya. Sebenarnya kerinduan itu selalu menunggu, kerinduan itu tidak kemana-mana, karena ia datang dari nafs-nya sendiri, dari dalam dirinya sendiri. Namun seringkali hatinya tertutup, sedangkan kerinduan itu adalah kunci dari gerbang rahasia dalam dirinya. Allahumma sholli wa salim wa-baarik 'alaih.
"Heh Hati, kira-kira ada tidak ya, pada jaman ini manusia yang seperti beliau Baginda Muhammad?" tanyaku.
"Saya ndak paham maksud sampeyan, maksudnya seperti beliau itu bagaimana?"
"Ya paling tidak manusia yang berkuaitas seperti beliau."
"Wah, sampeyan ini bercanda." tawa hati terkekeh-kekeh.
"Bercanda gundhulmu, aku ini tanya serius."
"Ya nggak ada to, yang banyak adalah manusia yang meneladani beliau, namun tetap saja, Kanjeng Nabi adalah Kanjeng Nabi, yang bahkan malaikatpun ndak akan mampu menjadi seperti beliau, apalagi manusia seperti sampeyan yang diberi Allah untuk memilih segala kemungkinan dan cenderung selalu sibuk dengan dirinya sendiri."
"Betapa beruntungnya manusia yang diberi kesempatan hidup dan melihat secara langsung ke-ra'uufur-rahim-an beliau. Jika beliau ibarat cermin, maka kita akan mampu bercermin sepuas-puasnya kepada beliau. Tetapi sekarang ini, pada jaman ini, kepada siapa kita bercermin?"
"Lho, sampeyan ini lupa atau bagaimana? Kanjeng Rasul tidaklah mati, ia hadir di dalam dirimu, min-anfusikum, dalam nafs-mu sendiri. Sampeyan sendiri yang ndak paham-paham."
"Terus saya musti bagaimana?"
"Ya tinggal bercermin ke dalam diri sampeyan sendiri."
"Ngomong gampang, ngelakuinnya gimana."
"Banyak orang yang luhur akhlaknya, manis tingkah lakunya, dan apakah sampeyan tidak ayem hatinya ketika menyaksikannya? saat itulah beliau hidup, beliau hadir di dalam diri sampeyan. Apalagi ketika sampeyan yang berusaha berakhlak baik, maka orang lain juga akan merasakan kehadiran beliau Muhammad Mustafa."
Allah adalah Cahaya langit dan bumi, Allahu nuurussamawati wal ard.. sedangkan di dalam diri kita, berdasar yang hati katakan, terdapat juga cahaya. Cahaya itulah cahaya yang terpuji. Ya, di dalam diri kita.
"Di manakah aku dapat berjumpa denganmu, wahai Rasul? sedangkan kemanusiaan sendiri sedang menuju kepunahannya. Apakah engkau bersedih wahai Baginda Nabi? manusia telah lupa tentang menjadi." detak jantungku memburu, "kemanusiaan sedang dibenturkan dengan profesionalitas, atau mungkin profesionalisme, yang aku sendiri tidak begitu paham perbedaannya."
"Piye karep sampeyan?"
"Ya kita ambil satu contoh. Seorang manajer di sebuah perusahaan, seorang Manajer HRD misalnya, menemui pergolakan batin, karena ia harus memecat seorang buruh yang melakukan kesalahan, tetapi manajer itu tahu, si buruh adalah seorang single-parent beranak tiga dan masih sekolah." aku menghela nafas, "jika dia tidak jadi memecat karena merasa iba dan tidak tega, maka atasannya akan menyebut ia tidak profesional, sebaliknya, jika manajer itu tega memecat si buruh, maka ia akan dikatai tidak berperikemanusiaan."
"Oh, oke saya paham. Lucu ya, hidup ini sudah terkotak-kotak jumpalitan tidak keruan."
"Wah wis ra karu-karuan. Itu baru satu contoh, banyak peristiwa lain yang serupa. Manusia sendiri yang membuat istilah-istilah, lalu dibentur-benturkan sendiri, dan mumet-mumet sendiri dan bertengkar sendiri."
"Edan."
"Ya, memang kita sudah gila."
"Termasuk sampeyan?"
"Saya jenderalnya orang gila."
"Hahaha dapurmu."
"Ya piye, jadi orang kantoran, harus profesional-transaksional, jadi dokter juga transaksional, jadi guru transaksional, bahkan jadi kiai pun transaksional, seniman pun juga banyak yang transaksional. Hal ini benar, tetapi sejak kapan profesionalisme harus lekat dengan transaksi? dan akhirnya mereka salah tujuan. Berdagang supaya kaya, mengobati pasien supaya kaya, jadi ustadz supaya kaya, supaya, supaya, supaya..."
"Bukannya memang harus begitu? Jika bekerja ya harus profesional to."
"Lho, jika pekerjaan utama mereka berdagang, ya profesional dalam hal jual beli tok, jika ia seorang dokter, ya harus bersungguh-sungguh saat mengobati pasiennya tok. Maka kekayaan yang mencari mereka, entah itu kemegahan jasad atau batin mereka. Jika ada permasalahan yang berkaitan tapi menyentuh ranah lain, ya harus dijadikan sarana berpikir dan pertimbangan. Jadi kemanusiaan itu melingkup profesionalitas, maka jangan dipertandingkan. Mosok kambing dipertandingkan dengan kakinya sendiri."
"Kalo kayak gitu semua orang juga sudah tahu."
"Ya, tapi mereka itu tidak sadar. Ibarat kambing tadi, mereka terlalu gembira melangkah-langkahkan kaki, lupa kalau perutnya juga butuh makan, lupa jika matanya harus mencari jalan ke kandang, lupa kalau duburnya butuh ngeluarkan inthil."
Hati tertawa terpingkal-pingkal, "Gusti Allaaahh, lucunya hidup ini. Sungguhlah Engkau yang mampu mengubah bencana menjadi nikmat. Jadi benar yang Engkau katakan Ya Allah, hidup ini hanya senda gurau dan permainan belaka."
Tawa kami meledak. Kami berdua cekikikan hingga tak sadar jika matahari sudah menutup harinya.
"Ya kita ambil satu contoh. Seorang manajer di sebuah perusahaan, seorang Manajer HRD misalnya, menemui pergolakan batin, karena ia harus memecat seorang buruh yang melakukan kesalahan, tetapi manajer itu tahu, si buruh adalah seorang single-parent beranak tiga dan masih sekolah." aku menghela nafas, "jika dia tidak jadi memecat karena merasa iba dan tidak tega, maka atasannya akan menyebut ia tidak profesional, sebaliknya, jika manajer itu tega memecat si buruh, maka ia akan dikatai tidak berperikemanusiaan."
"Oh, oke saya paham. Lucu ya, hidup ini sudah terkotak-kotak jumpalitan tidak keruan."
"Wah wis ra karu-karuan. Itu baru satu contoh, banyak peristiwa lain yang serupa. Manusia sendiri yang membuat istilah-istilah, lalu dibentur-benturkan sendiri, dan mumet-mumet sendiri dan bertengkar sendiri."
"Edan."
"Ya, memang kita sudah gila."
"Termasuk sampeyan?"
"Saya jenderalnya orang gila."
"Hahaha dapurmu."
"Ya piye, jadi orang kantoran, harus profesional-transaksional, jadi dokter juga transaksional, jadi guru transaksional, bahkan jadi kiai pun transaksional, seniman pun juga banyak yang transaksional. Hal ini benar, tetapi sejak kapan profesionalisme harus lekat dengan transaksi? dan akhirnya mereka salah tujuan. Berdagang supaya kaya, mengobati pasien supaya kaya, jadi ustadz supaya kaya, supaya, supaya, supaya..."
"Bukannya memang harus begitu? Jika bekerja ya harus profesional to."
"Lho, jika pekerjaan utama mereka berdagang, ya profesional dalam hal jual beli tok, jika ia seorang dokter, ya harus bersungguh-sungguh saat mengobati pasiennya tok. Maka kekayaan yang mencari mereka, entah itu kemegahan jasad atau batin mereka. Jika ada permasalahan yang berkaitan tapi menyentuh ranah lain, ya harus dijadikan sarana berpikir dan pertimbangan. Jadi kemanusiaan itu melingkup profesionalitas, maka jangan dipertandingkan. Mosok kambing dipertandingkan dengan kakinya sendiri."
"Kalo kayak gitu semua orang juga sudah tahu."
"Ya, tapi mereka itu tidak sadar. Ibarat kambing tadi, mereka terlalu gembira melangkah-langkahkan kaki, lupa kalau perutnya juga butuh makan, lupa jika matanya harus mencari jalan ke kandang, lupa kalau duburnya butuh ngeluarkan inthil."
Hati tertawa terpingkal-pingkal, "Gusti Allaaahh, lucunya hidup ini. Sungguhlah Engkau yang mampu mengubah bencana menjadi nikmat. Jadi benar yang Engkau katakan Ya Allah, hidup ini hanya senda gurau dan permainan belaka."
Tawa kami meledak. Kami berdua cekikikan hingga tak sadar jika matahari sudah menutup harinya.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar