"Ide tidak muncul karena sang pemilik mau," ujarku kepada sahabatku, "bahkan jika pun menurut tingkat keilmuan yang dimilikinya sudah pantas, atau sewajarnya mampu. Tidak, ide tidak begitu. Ide bagaikan benih yang tumbuh di ladang-ladang pikiran, bisa saja benih itu tak sengaja terlihat, lalu si petani penasaran dan mau meneliti, namun sangat mungkin juga benih itu terinjak, atau yang seharusnya tumbuh malah menjadi gulma dan mati karena sesungguhnya membutuhkan bantuan dan butuh dirawat untuk dapat berkembang."
Hati malah terbengong.
"Apa sih, Bro? saya ndak nanya, sampeyan main nyerocos aja."
Aku tak peduli dengan tanggapan si Hati, "Ide tidak wajib datang kepada yang mengaku ahli, atau mungkin malah pakar. Ide adalah buih-buih cahaya yang mengambang bebas di udara. Ketika seseorang sedang berjalan, misalnya, tiba-tiba sehelai daun gugur mengenai kepalanya, seperti itulah ide."
"Asembuuh..." jawab Hati sinis.
Sebentar aku melirik ke arah sahabatku itu, lalu aku lanjutkan kalimatku, "Ide selalu dicari, ada yang berhasil, tapi ada juga yang kecele, atau malah gagal."
"Tapi kan, menurut saya," Si Hati gerah sendiri dan akhirnya malah menganggapi, "ide itu muncul dari daya kreatifitas seseorang, dan daya itu bisa diasah terus menerus hingga tajam. Sehingga seseorang menjadi peka melihat peluang-peluang, dan mengais di tanah yang belum terjamah. Tetap saja kan yang terjadi proses dialektika."
"Benar, kreatifitas adalah tumbu ketemu tutup, atau gayung bersambut. Tetapi sahabatku, hakikat ide tidak muncul dari dalam diri seseorang. Ia bak petani yang bergembira melihat tunas muda di kebunnya. Atau seorang istri yang berbahagia karena melihat hasil foto USG dari dalam rahimnya. Begitulah lahirnya sebuah ide. Dan tahap selanjutnya adalah proses percintaan dan kasih sayang."
"Cintaaa.. cintaaa.." Hati bersiul-siul berdendang.
"Sekarang aku bertanya kepadamu,"
"Tanya tinggal tanya." siul Si Hati terhenti, wajahnya berubah agak serius.
"Jika ide seperti janin, siapa yang menciptakannya?"
"Bapak ibunya.." Hati cekikikan.
"Ngawur..!"
"Hahaha, ya Tuhan to"
"Apa manusia juga bisa menciptakan janin?"
"Secara pragmatis-logis, ya. Tetapi apapun hakikatnya adalah Tuhan yang menciptakan."
"Berarti tetap Tuhan kan pengetok palunya?"
"Yap."
"Ya ide tuh begitu itu."
Kali ini Hati tidak terlalu mengambil pusing. Obrolan semacam ini adalah obrolan cakruk bagi kami. Sahabatku itu masih bersiul-siul dan melantunkan lagu sekena-kenanya. Lagian liriknya hanya satu dan diulang-ulang, "..cintaa...cintaa...oh cintaaa.."
Tidak ada komentar:
Posting Komentar