Kamis, 27 Juli 2017

Tidak takut, tidak khawatir

Kalau tiba-tiba Tuhan menimpakan keburukan kepada saya, alangkah wajarnya saya bersedih, sakit hati, atau mungkin ikut masuk dan tenggelam ke dalam keburukan itu lalu frustasi. Padahal Tuhan sendiri bilang, "...bersamaan dengan kesulitan terdapat kemudahan."

Tetapi Tuhan itu Asy-Syakur, Sang Maha Pensyukur. Tuhan pasti tahu jika saya adalah manusia sewajarnya yang sedang belajar. Wajarlah jika semakin kencang berlari, semakin keras juga saya terjerembab jatuh.

Kemudian ketika kita berhasil menemukan kemudahan itu, kita kembali bangkit. Kembali menjalani kehidupan yang tadinya luas dan bebas yang terkadang malah memenjarakan kita. Kita terpenjara oleh trauma-trauma tentang masalah lampau dan mungkin masalah orang lain. Sehingga untuk melakukan sesuatu, kita jadi semakin hati-hati, atau lebih tepatnya: takut. Padahal Tuhan juga pernah bilang, "Sesungguhnya kekasih-kekasih Allah adalah mereka yang tidak takut atas mereka, ...."

Seseorang yang berani, katanya adalah seseorang yang berhasil berdiri di atas ketakutan mereka. Berani terhadap masalah-masalah yang menimpa atau bahkan yang akan ditimpakan kepadanya. Namun ada juga ketakutan yang lebih halus dan tersamar, yaitu rasa khawatir. Khawatir besok makan apa, makan di mana, bahkan makan siapa. Maka tuhan melanjutkan kalimat di atas dengan; "...dan tidak khawatir atasnya."

Tuhan sungguh Pemurah Hati, karena mau mengajarkan kepada kita cara hidup dengan bermacam-macam cara. Padahal apalah saya, hanya debu yg hidup di sebutir debu, yang mengapung di alam semesta yang tak terhingga luasnya. Mau-maunya Tuhan memperhatikan kita. Namun kemurahan hati Tuhan sering saya sepelekan, sering tidak saya dengarkan.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar