Rabu, 05 Juli 2017

Rumah


Foto di atas adalah foto sebuah rumah sederhana pada abad ke-6 sampai 7 masehi. Jika kita lihat dari gaya arsitekturalnya, tentu bukan bergaya Jawa atau daerah manapun di belahan bumi nusantara. Tentu pemiliknya adalah orang yang hidup sangat sangat sederhana dan cenderung kekurangan. Replika rumah di atas adalah contoh dari kesederhanaan orang-orang di Jazirah Arab. Tetapi, rumah tersebut mempunyai tempat tersendiri di dalam diri saya.

Replika rumah di atas adalah rumah milik Kanjeng Nabi Muhammad.

Rumah yang ukurannya tidak lebih dari 5m x 3m tersebut mencerminkan hidup manusia dengan ketawadhu'an yang tak tertandingi. Jangankan lantai bata, alas tidur yang Kanjeng Nabi gunakan hanyalah pelepah kurma, yang ketika telah tiba waktu sholat, masih terlihat dengan jelas di mata para sahabat guratan bekas pelepah kurma di permukaan kulit beliau.

Beliau adalah manusianya manusia. Semanusianya manusia. Beliau adalah Nabi, namun jelata. Beliau teladan sekian milyar manusia yang pernah menghirup udara bumi. Bisa saja beliau memohon kepada Allah kekayaan yang tak tertandingi, yang mungkin Allah sendiri juga sudah menawarkan, tetapi beliau sangatlah paham tentang apa yang asli dan tidak asli di kehidupan ini. Beliau memilih menjadi orang biasa.

Hati saya seringkali merasa iri melihat orang yang  dapat berjabat tangan dan berfoto dengan idola mereka. Mengkoleksi tulisan-tulisan, tanda tangan, bahkan foto wajah dan berbagai rekaman orang yang diidolai. Sedangkan saya hanya bisa berangan-angan jauh di dalam diri saya sendiri. Kerinduan saya terhalang jarak waktu belasan abad nan jauh di sana. Sampai-sampai rindu itu menjadi dendam, yang saya kebingungan cara melampiaskannya.

Kanjeng Nabi adalah orang agung, makhluk nomor satu di mata Sang Khalik. RI-1 nya alam semesta. Sedangkan saya sendiri jadi manusia pun rasa-rasanya belum mampu. Sangat sering kehidupan menina-bobokan saya.

Beberapa waktu lalu saya sangat asyik berencana, menata cita-cita, hingga hidup saya pun mendadak meletup dan menggebu-gebu. Saya memimpikan hidup mapan meski tak kaya, bermimpi mempunyai rumah dengan pekarangan luas dengan taman dan joglo yang serba indah. Saya susun segala macam strategi, semua saya akali.

Namun Tuhan tetaplah Tuhan Yang Maha Baik. Ditunjukkanlah kepada saya foto rumah Kanjeng Nabi. Seketika hati saya bagai terantuk batu. Beraninya saya mengandai yang bermacam-macam, sedangkan Kanjeng Nabi yang saya idolakan sering mengganjal perutnya dengan batu akibat tak mampu makan berhari-hari.

Bukan berarti saya anti kekayaan, anti duniawi. Tidak. Namun hidup ini sungguhlah palsu jika beralamat di hal semacam itu. Kita kaya, bagus. Tetapi miskin juga tidaklah buruk. Kita berkecukupan adalah baik, namun jika kekurangan lebih sering mengingatkan kita kepada Yang Kuasa, mengapa tidak?

Baru ketika kita sudah selalu connect dengan Allah, hati kita selalu bermunajat kepada-Nya dan Rasul-Nya, baik dalam terjaga maupun tidur kita, kekayaan dunia bukanlah apa-apa meskipun suatu saat kita miliki sepenuhnya. Namun jika hati ini belum bertaraf itu, alangkah baiknya jangan dulu.

Akan sangat banyak pelajaran yang kita ambil, meski hanya dari secuil kisah dari kesederhanaan Kanjeng Nabi. Beliau adalah pusaka bagi mereka yang meniti jalan kerinduan kesejatian hidup. Maka pusaka itu saya bikinkan rumah di hati. Lalu saya bikin rumah di hati itu sesederhana mungkin sebisa saya. Saya tidak mau yang muluk-muluk. Agar Beliau nyaman dan tidak segan meninggalinya. Shollu 'alan nabi..

Tidak ada komentar:

Posting Komentar