Senin, 26 Juni 2017

Tidur yang tidak tidur.

Pernah terpikir di benak saya, dan mungkin telah menjadi pembahasan umum bahwa seperempat dari sehari dalam hidup kita, terlewati dengan tertidur lelap. Berarti separuh empat dari sekian tahun hidup, kita habiskan di atas tempat tidur. Tentu tidak semua orang begitu. Dokter, misalnya, atau seseorang dengan keperluan kesiap-siagaan ekstra akan lebih sedikit jatah waktunya. Tetapi kali ini saya ambil titik tengahnya saja.

Pada saat beraktivitas, begitu sibuk diri kita dengan urusan tetek bengek yang menguras tenaga dan seisi kepala. Belum lagi setiap hari kita dikagetkan dengan adegan-adegan dan peristiwa yang sama sekali tak terduga. Kesadaran kita seakan diperas, dikuras habis. Sudah barang pasti sang tubuh meminta sedikit jeda. Barulah saat itu pejam memaksa mata kita. Kemudian kita terlelap. Dan ketika tubuh telah selesai recovery, kita terbangun.

Pertanyaannya, kemana perginya kesadaran itu ketika kita tertidur?
"Ya tidur itu kita nggak sadarkan diri."
"Namanya juga tidur, yakali sadar."
"Kesadarannya nggak kemana-mana, dia juga butuh istirahat."
Lho, kok saya tidak sependapat dengan itu ya.

Ketika tidur, tidak semua sistem di tubuh kita beristirahat. Pikiran kita masih bekerja, jantung masih berdetak, paru-paru juga masih memompa, ruh kita masih memancar, bahkan jiwa kita mengembara ke mana-mana. Maka tubuh kita adalah sebuah contoh otentik dan mutakhir dari sebuah sistem otomatis yang canggih. Karena saya orang awam, saya masih memerlukan konfirmasi kepada yang memang benar-benar expert di bidang ini. Namun untuk sementara pemahaman saya ya begitu itu.

Nah, lalu saya ulangi pertanyaan saya, kemana perginya kesadaran itu saat kita tertidur? Kalau kesadaran tidak pergi dan sedang beristirahat, lalu di mana letaknya? Padahal, saat dimana tubuh benar-benar beristirahat adalah hanya ketika kita telah mati.

Sistem pernafasan adalah sistem makro di tubuh, sebuah mesin, sedangkan microprocesor-nya adalah kesadaran itu sendiri. Meskipun semuanya berjalan secara default dan otomatis, tanpa sebuah kesadaran, sistem tidak akan bekerja. Berarti, kesadaran itu berlapis-lapis. Menurut saya, ada juga kesadaran yang tidak kita rasakan, ada kesadaran yang menghendaki kita untuk tidak sadar. Jika tidak, bayangkan betapa repotnya diri kita.

Kok rasa-rasanya tidak mungkin jika kesadaran kita hilang begitu saja, sedangkan sistem default dalam tubuh kita masih terus bekerja dan bekerja. Karena menurut saya, kesadaran adalah bagian terlembut dari keseluruhan diri kita, yang entah ia berbentuk apa dan entah di sebelah mana ia bekerja. Yang jelas, ia ada.

Namun, uraian di atas sama sekali belum menjawab pertanyaan awal saya, ke mana perginya kesadaran kita ketika tertidur?

Mungkin, saya harus semakin rajin bertanya kepada diri sendiri. Untuk mencari tahu dan lebih mengenali diri saya. Dan yang terpenting adalah membiasakan diri untuk selalu sadar. Jika sudah begitu, lama-kelamaan kita akan semakin terbiasa berpegangan kepada kesadaran, titik terlembut yang mengontrol keseluruhan kita.

Maka yang sedang saya pelajari adalah tidur yang tidak tidur, kesadaran yang tersamar oleh ketidaksadaran, serta ke-tidak dalam ke-iya-an. Semoga saja saya dapat menyadari, atau paling tidak meraba-raba sejatinya kesadaran.

Hm, sebaiknya saya sudahi saja tulisan kali ini. Karena setelah dipikir lagi, pembahasannya sungguh sangat membosankan dan tidak menarik. Maafkan saya 😀.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar