Minggu, 18 Juni 2017

Tuhan Maha Baik

Dua hari lalu saya nggak puasa hehe. Tidak, saya tidak sedang dapet, karena sejatinya saya masih lelaki sejati. Wuss. Alasan utamanya adalah terjadi kemarau di badan saya, maka saya memberanikan diri untuk tidak berpuasa. Hari itu benar-benar menakutkan. Ketakutan utama saya adalah kalau-kalau kemarau itu semakin menjalar dan menjangkit hati saya. 😂

Alay we mbek. Hehehe yoben.

Hari itu saya benar-benar merasa hina dina, nista, durjana, dholim, serta infidel alias kafir. Namun saya syukuri.

Lho kok?

Iya, saya bersyukur. Seringkali diri ini merasa lebih baik, lebih pandai, bahkan lebih takwa dan beriman dibandingkan orang-orang di sekitar saya. Namun Tuhan menganugerahkan fisik yang lemah yang membikin saya tidak mampu untuk berpuasa. Hari itu saya merasa sebagai manusia paling buruk yang pernah ada. Seorang Nuh AS pun menyebut dirinya makhluk paling dhollim, sementara saya sering jumawa. Tuhan mengingatkan saya.

Dan pada titik itu saya jadi sadar. "Mbek, sombongnya dirimu." seakan-akan Tuhan bilang gitu ke saya. Ampun Ya Allah, ampun.

Tetapi, bagai sekeping uang, terdapat sisi yang lain. Tuhan menghukum saya dengan cara pikiran saya dibikin bekerja sangat keras pada hari itu. Lho, kok hukuman? Iya, hukuman. Meski keadaan badan saya semakin membaik, pikiran saya justru semakin kelelahan.

Namun saya mencoba mengambil pelajaran; Tuhan tidak pernah memberikan hukuman tanpa anugerah, dan Tuhan tidak pernah memberi masalah tanpa solusi. Tinggal seberapa peka kita, karena terkadang yang kita anggap masalah ternyata adalah sebuah solusi. Bingung? Sama.

Hal yang serupa juga terjadi di hati saya. Karena Tuhan menciptakan rongga hati hanya berjumlah satu, maka saya sempat direpotkan karena hidup saya benar-benar penuh akan sesuatu yang memenuhi bejana di hati saya. Sebutlah sesuatu itu "air". Maka jika saya sedang melihat tanah, misalnya, yang saya lihat adalah air. Begitu juga ketika melihat langit, pepohonan, bahkan kotoran sapi, yang tampak di mata hanyalah air. Sangat memuakkan.

Tetapi, Tuhan sungguh Maha Baik. Ketika diri ini hampir putus asa, dibukalah bejana itu dan dihembuskanlah udara yang sangat menyejukkan. Meskipun hanya sejenak. Benar-benar sejenak.

Maka usailah kesedihan saya. Ternyata kesedihan adalah ketidakmampuan diri menerjemahkan kebahagiaan. Saat melihat apapun, yang saya lihat adalah air dan udara. Maka hati pun sesak. Anehnya, ekspresi yang keluar adalah senyum di bibir saya. Pertanyaannya, saya ini sedang bersedih atau bahagia?

Jawabannya, mungkin saya sudah gila. 😅

Sungguh, Tuhan Maha Baik. Mulai saat ini saya mampu berbahagia di dalam kesedihan saya. Begitupun sebaliknya. Maka kepada Engkau Tuhan, saya bersyukur.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar