Oh, ini aja. Kok nulis lagi mbek, katanya udah 'sekian'? Iya bener, memang begitu. Aku cen labil kok, po we!
Jadi begini ceritanya, beberapa waktu lalu emang berniat menyudahi blog yang semakin tidak jelas latar belakang dan juntrungannya ini. Daripada daripada ya sudah saya putuskan untuk tidak menulis lagi (setidaknya tidak di sini, kembali ke ranah kertas dan pensil eheheh).
Sebenernya alesannya juga sama nggak jelasnya sama konten blog ini sih: saya kok merasa risih membaca tulisan saya sendiri. Rasa-rasanya, naga-naganya, kok diriku norak sekali. Akhirnya saya pun merasa tidak nyaman, dan yang jadi penyebabnya ya diri saya sendiri. Bodoh memang.
Maka saya tegaskan lagi, blog ini saya akhiri sampai di sini.
"Karena blog ini sudah saya akhiri dan bubarkan, maka saya akan bikin lagi blog baru di sini. Ya, di sini. Lha dibuang sayang, hehe."Demikian sodara-sodara statement saya. Untuk selanjutnya mungkin saya akan menulis seperlunya saja dan tidak ndakik-ndakik. Karena ke mana lagi akan kutuangkan kegundahan hati selain di sini? Prek mbeek, prek.
Okay, permasalahan pertama saya anggap selesai, kalau ada yang nggak terima ya monggo, wong saya ndak ngasih apa-apa.😁
Apa lagi ya?
Hm, saya cerita aja ya, walaupun saya adalah pencerita yang buruk, setidaknya hargai saya karena mau mencoba.
Untuk pertama kalinya dalam kurun waktu kurang lebih 4 tahun, saya mempunyai rencana! "Wis, cuma itu tok mbek?" Yes, sayangnya begitu. Mungkin itu hal biasa bagi anda yang hidupnya selalu terencana dan tertata dengan baik. Sedangkan selama beberapa tahun ini, merencanakan rencana pun saya nggak mampu. Apa saya harus mengikuti program Keluarga Berencana agar mampu berencana? Buru-buru saya batalkan niat itu. Arep berencana karo sopo mbek? Kadal? Tokek? Hehehe geli saya.
Kembali ke pembahasan awal. Saya sendiri takjub alias gumun, kok bisa-bisanya ya saya bikin rencana. Kemudian setelah saya telisik lagi, oh, ternyata di perjalanan hidup saya yang datar dan tak bergairah itu, saya menemukan sesuatu yang mengagetkan saya: momentum.
Bukannya hidup ini adalah deretan momentum, momentum, momentum, dan momentum? Tapi kenapa peristiwa itu yang dijadikan trigger buat saya? Jawabannya juga masih saya cari, namun yang jelas, akhir-akhir ini doa saya berubah: Ya Allah, saya mohon trigger. Dan entah kenapa setelah bilang gitu ke Allah, saya malah cekikikan sendiri. Tapi itu beneran, dan saya bersungguh-sungguh.
Kemudian muncul permasalahan kedua. Trigger sudah ada, namun untuk melangkah, saya masih ragu, saya takut salah melangkah. Akhirnya saya mantapkan hati, saya ambil langkah dengan berbaik sangka kepada Tuhan, dengan ayunan tangan rasa bersalah dan permohonan ampun, serta diiringi syukur dan kepasrahan. Saya membabi buta.
Halah mbeek, bahasamu.
Lho, saya bisa apa? Saya memiliki pagar-pagar yang membatasi diri saya. Apakah akan saya geser pagar-pagar itu, atau mungkin bikin sebuah pintu di situ, saya belum putuskan apapun. Saya masih menunggu, melongok ke balik pagar dan mengagumi momentum yang Allah rancang untuk saya.
Mungkin untuk sementara ini cukup begitu dulu. Untuk langkah selanjutnya, akan saya ceritakan di lain waktu.
Hm.. selamat sahuuur! 😀😀😀
Tidak ada komentar:
Posting Komentar