Temen : "Kamu kuliah mau ngambil apa mbek?"
Aku : "Manajemen UGM, kamu?"
Temen : "Weh, sama, kita saingan ya berarti! waaah."
Aku : "he... he.... iya *nada maksa*"
Jujur, waktu itu aku nggak suka dibilang saingan. Dalem hati aku ngomong
kenapa saingan? Hei, kursi di UGM bukan cuma satu. Dan kenapa harus disebut sebagai "pesaing"? bukankah akan lebih baik kalau disebut "rekan"?Coba pikirin, kursi jurusan kedokteran di UGM bung misalnya, akan SANGAT CUKUP untuk menampung SEMUUA anak 66 yang pengen nglanjutin ke sana . Jumlah angkatan kita kira2 240-an orang, itupun udah ditambah aksel 67. Dan aku yakin banget nggak lebih dari 40 % anak yang pengen lanjut ke KU UGM, bisa dihitung sendirilah jumlahnya. Jadi kalau dilogika harusnya semua memiliki kemungkinan yang sama buat masuk kesana. Ngapain harus disebut saingan? bukankah menjadi rekan itu lebih baik? renungkanlah.
Kenapa e mbek kok kamu ngomongnya gitu?
Gini, dengan menganggap teman kita sebagai lawan, kita memang termotivasi, tapi yang sebenarnya terjadi adalah kita akan saling "membunuh". Maksudnya, kita akan berusaha menyusun siasat, mboh piye carane aku bisa ngalahin sainganku. Dan terkadang siasat itu akan menjatuhkan teman/saingan kita. Baik sadar maupun nggak sadar. Contoh kasus:
Si A belajar giat semaleman, trus paginya si B tanya, "kamu semalem belajar nggak?" lalu Si A jawab, "Enggak, aku masih males e belajar-belajar gitu, besok aja ah". Dan bisa aja di dalem hati si B bilang, "Ah santai, dia belum belajar, berarti aku belajarnya juga besok deh, masih ada temen seperjuangan."
Mungkin maksud kita emang nggak mau sombong atau nggak mau dibilang sok rajin atau apalah. Tapi, taraaaaaa, kalian berhasil menjatuhkan saingan kalian, atau lebih tepatnya temanmu, rekanmu. Dan kalo udah gitu , kita bisa dengan mudah membuang mimpi seseorang. Semua yang ada sekarang, apapun yang kita nikmati di sekitar kita, dulunya berasal dari mimpi-mimpi seseorang. Apa sekarang kalian tega menghancurkan mimpi orang? tentu saja tidak.
Akan lebih mudah kalau kita saling membantu, sebagai rekan satu sama lain, berkelompok, lalu bertukar pikiran, masalah materi pelajaran yang belum dimengerti misalnya, informasi, dan apapun itu yang berkaitan sama UM blablabla. Di situ kita saling bahu membahu, kalau ada salah satu yang dirasa belum cukup bekalnya, semua berusaha membantu. Sampai suatu saat semuanya sudah siap dan mempunyai bekal yang cukup, sama-sama pintar, semua berada di level yang sama, lalu bersama-sama mengerjakan soal UM. Dan beberapa bulan kemudian SEMUA bergembira setelah melihat pengumuman hasil UM, USM, Simak, blablabla. Wow amazing. Semua diterima di fakultas impian.
Semua anak di SMA 3 punya potensi yang lebih dibandingkan anak pada umumnya. Dan bayangkan kalau semua anak berpotensi tersebut berhimpun menjadi satu. Maka, untuk mencapai target ke perguruan tinggi idaman pun seharusnya akan lebih mudah, karena pada dasarnya kalian lebih unggul dari orang lain. Jadi, berhentilah menyebut temanmu sebagai "saingan", mulai saat ini sebut mereka "rekan" !! Mari saling bahu membahu. Maka,--->>>
66 100 % diterima di perguruan tinggi dan fakultas yang diinginkan!!
KEREN GAN!!
BalasHapuskowe cen rekan ku tenan ok mbek!
kita tidak saling menjatuhkan dgn meminjamkan stik! ak wis tuku stik meneh dab!
konco2 66, mari kita
main bersama!
bobrok bersama!
dan wajib ditutup dgn sukses bersama!
setuju
BalasHapusapalagi bagian :
Si A belajar giat semaleman, trus paginya si B tanya, "kamu semalem belajar nggak?" lalu Si A jawab, "Enggak, aku masih males e belajar-belajar gitu, besok aja ah". Dan bisa aja di dalem hati si B bilang, "Ah santai, dia belum belajar, berarti aku belajarnya juga besok deh, masih ada temen seperjuangan."
aaaaa embek aku juga mikir gituu
BalasHapusamin amin