Ternyata permasalahannya ialah;
Diri ini tertelan oleh kesementaraan
Yang hilang entah mati, malah disebut hakiki
Yang hakiki malah buru-buru kuhindari.
Juga dedaunan yang mengangkasa
Menafikan tanah pijakannya
Rerumputan yang melebat
Justru dikira nyata ternyata fatamorgana
Kesederhanaan kubikinkan lubang
Kupendam
Diatasnya kubangun bangunan megah keruwetan
Ya keruwetan hidup, ya keruwetan pikir
Kesempatan melengos pergi
Karena kupikir ia tak cantik
Maka siapa yang tertarik?
Begitu pikirku
Atau mungkin kesahajaan itu juga cantik
Namun ketika kutarik
Taliku putus
Ketika berhasil tali kusambung
Ia telah terbawa terbang oleh burung-burung
Lalu apalagi?
Ke mana lagi?
Aku bukanlah batu yang haus
Menunggu basahnya rintikan hujan
Bukan juga awan di langit bisu
Menyambut sapuan angin yang beku
Lalu ke mana lagi?
Lantas apalagi?
Tidak ada komentar:
Posting Komentar