Kurusetra di kala pagi. Hanyalah hamparan tanah basah. Namun tak lama lagi menjelma jadi sabana yang terik, yang belalang pun enggan meloncat kesana-sini. Padang yang jika engkau bertanya kepada setiap penghuninya, pohonnya, hewannya, bebatuan, tanahnya, maka tak akan pernah cukup waktumu mendengarkannya.
Kurusetra, tanah yang ditakdirkan. Dimana darah menjelma tanah, dan tubuh melebur jadi debu. Dimana keburukan tak lagi menjadi buruk karena baik dan buruk adalah kesatuan yang telah lebur menjadi satu. Buruk adalah pijakan kebaikan menuju kemuliaan, dan baik adalah cerminan sang buruk menuju keutamaan.
Sastra Jendra Hayuningrat Pangruwating Diyu. Bergolak hatinya yang enggan mencari tahu. Telah habis akalnya lalu berujung tak mau tahu. Dan sembari berpikir, ternyata hidupnya terus melaju. Ketika tersadar, usianya telah lama berlalu.
Padang kurusetra yang ada di hatimu, tunggu aku.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar