Selasa, 18 April 2017

Salah kaprah

Berkali-kali Engkau bukakan, buih-buih tidaklah kotor, melainkan mata diri yang lalai menerjemahkan arti.
Bukan kami yang harus mengemis memohon cintamu.
Sedangkan suaramu menggelegar;
"Sudah dari dulu!"

Ketika diliputi kebahagiaan, kami sangka kami mampu mendatangkannya sendiri.
Padahal pada saat itu tanganmu melambai-lambai. Tetapi tidak ada diantara kami yang menghampiri.

Dan ketika mendung hadir di dalam hati, kami memanggil-manggil. Tapi mata kami terlanjur buta oleh air mata kami sendiri. Padahal Engkau setia menemani.

Ya Lathif, hadirkan kelembutan di dalam hati kami. Karena kami adalah butir pasir yang menyangka diri sebagai gunung. Sehingga kami selalu salah menyadari. Kesadaran kami salah. Kami tidak sadar. Kami salah.

Padahal Engkau yang selalu mencintai...

Tidak ada komentar:

Posting Komentar