Tetapi sungguh aneh dan mengagetkanku, Wahai Kekasih. Seketika aku lupa akan segala permasalahanku.
Detik itu yang tersisa hanya rasa rindu yang begitu dalam. Serta campur aduknya perasaan bersalah karena tak berdayanya diri ini mendekatimu, o Kekasih.
Namun betapa lembut dan sayangnya Engkau kepadaku. Kau seakan tak tega melihatku.
Oh Kekasih, nyatanya Engkau hadir. Semakin aku merasa tak pantas menerima perhatianmu.
Engkau tersenyum kepadaku! Namun karena kekerdilanku aku hanya terpana. Akulah seorang anak yang melongo ketika memandangi malam bulan purnama.
Engkau tersenyum kepadaku! Namun karena kekerdilanku aku hanya terpana. Akulah seorang anak yang melongo ketika memandangi malam bulan purnama.
Engkau menganggukkan kepalamu! Tapi justru aku semakin tertunduk seakan tak tahu malu.
Kemudian bayanganmu memudar dan perlahan menghilang.
Gelap.
Diriku terperangah, kemudian kembali memanggilmu. Tapi yang tersisa hanya Engkau di ingatanku.
Maka Kekasih, izinkan aku membangun singgasanamu di alam sunyiku. Agar aku dapat selalu memandangi wajahmu. Agar Engkau yang selalu bertahta. Agar Engkau yang selalu menggandengku di dunia gelap gulita.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar