Rabu, 10 Mei 2017

Wakil Tuhan di bumi

"... Innii jaa'ilun fil ardhi khaliifah."
Sesungguhnya Aku (Allah) hendak mencipatakan di bumi khalifah.

     Sebenernya saya ingin cuek saja menanggapi peristiwa akhir-akhir ini. Tapi kok ya lama-lama risih juga nonton orang-orang mengeluh akibat hati mereka yang merasa saling disakiti oleh mereka yang lain, yang masing-masing memegang teguh kebenaran yang mereka yakini.
     Mbok ya maulah sesekali keluar dari pintu permasalahan, agar dapat melihat keseluruhan, atau paling tidak ujung dan pangkal dari masalah tersebut.

Generasi (tidak) beruntung?

     Di bangsaku terjadi yang menurut saya pribadi adalah fenomena unik. Yaitu lahirnya jabang-jabang bayi yang sama sekali tidak sama dengan orang-orang tuanya. Terutama pada cara berpikir mereka yang kerap kali membuat om-om dan tante mereka keheranan.
     Dan kebetulan saya sendiri ikut terlahir di generasi ini. Tetapi saya mencoba seobyektif mungkin memandang peristiwa ini.
     Generasi ini sering disebut generasi Millenial, yang terlahir dari rahim para ibu generasi Baby Boomer (generasi setelah perang). Anehnya, generasi baru ini seakan-akan tidak dididik oleh siapapun, walaupun saya yakin malaikat sendiri yang membimbingnya, hehe. Karena jika kita mau sedikit mengamati, karakter mereka sangat berbeda dengan orang tua mereka. Generasi ini menggebu-gebu, sangat kritis, dan rata-rata mempunyai cita-cita setinggi gunung, yang mungkin generasi terdahulu untuk membayangkannya saja ngeri.
     Sialnya, generasi baru ini sangat mudah diombang-ambingkan oleh zaman. Mengapa? Saya juga belum mengerti, hehe, karena saya juga termasuk di dalamnya. Yang jelas, dengan modal kemampuan berenang yang sangat minim, kebanyakan teman-teman saya tenggelam oleh arus sejarah dan badai informasi yang terlalu banyak dikontaminasi kelicikan dan tipu muslihat. Entah karena kami masih lugu, atau karena kami yang terlalu rakus sehingga semua informasi kami telan mentah tanpa kami saring terlebih dahulu.
     Berhubungan dengan permasalahan yang sedang terjadi, kita tunggu saja nanti efek apa yang muncul pada generasi Millenial ini. Namun saya pribadi optimis, generasi kami akan mampu mengarungi arus deras sejarah hari nanti. Memang saat ini generasi ini sedang terseok-seok jalannya, namun alam sendiri yang akan mengajari, sehingga ramalan saya generasi ini generasi (jika boleh saya katakan: Generasi Renaissance) yang tangguh.
     Ada hal yang perlu saya garis bawahi. Izinkanlah saya mengatakan generasi Millenial adalah generasi yang kadar religiusitasnya tinggi. Mereka memandang keimanan adalah sesuatu yang "seksi". Paling tidak teman-teman di sekitar saya hampir semuanya begitu.

Main Bola

     Namun hari belakangan ini mereka sedang diuji. Seakan-akan agama hanya sebuah bola yang diperebutkan 22 orang di lapangan. Semua orang merasa menjadi striker yang buru-buru memasukkan bola ke dalam gawang berupa surga. Bahkan ada yang repot-repot memasukkan satu bola lagi ke lapangan sehingga membuat semua pemain kebingungan.
     Padahal, apalah sepak bola tanpa lapangan, tanpa garis-garis, tanpa wasit dan hakim garis, tanpa bangku penonton, tanpa udara yang mereka hirup, tanpa cahaya yang menerangi, tanpa.. tanpa.. tanpa...
     Ingatlah jika sepak bola meliputi berbagai macam hal. Tapi para pemain terlanjur fokus pada bola. Padahal tidak, jika mereka mau kembali berpikir.
     Keributan ini sebenarnya penting tidak penting. Agama. Agama bukan sebuah ruangan dalam sebuah bangunan kehidupan. Agama ibarat sebuah gedung besar yang terdiri dari berjuta-juta pintu.
     Agama adalah informasi kepada manusia yang diberikan oleh Tuhan secara langsung, karena keterbatasan manusia dalam mencari.
     Seandainya pun tidak ada agama resmi di dunia ini, tentu Tuhan berhak memberi informasi kepada siapa saja yang Ia mau. Karena semua adalah 100% milikNya.
     Namun Tuhan tidak begitu. Ia Maha Romantis. Ia memerlukan jarak terhadap makhlukNya. Dan satu-satunya cara adalah percintaan Tuhan dengan makhlukNya. Sebuah perjalan pencarian.
     Memang hal ini sulit diterima akal. Tetapi akal akan mentok kepada ketidaktahuan, lalu yang tersisa hanyalah kerinduan mendalam yang menyebabkan cinta. Kok bisa? Coba saja.

Khalifah

     Kenapa harus manusia?
     Karena memang maunya Tuhan ya begitu itu. Seperti ayat yang telah saya kutip di atas. Dan jika didalami lebih dalam lagi, hanya manusia yang mampu.
     Di bumi ada 4 tingkatan makhluk:
        1. Benda; yaitu segala sesuatu yang berwujud kasar dan kasat mata.
        2. Tumbuhan; kasat mata, namun berkesadaran tumbuh.
        3. Hewan; kasat mata, tumbuh, dan dibekali nafsu.
        4. Manusia; kasat mata, tumbuh, bernafsu, dan diberi kemampuan akal.

     Sekali lagi, hanya manusia yang mampu menjadi khalifah atau pengganti (wakil) Tuhan untuk mengurus segala sesuatu di bumi. Karena hanya "kesempurnaan" manusia berupa akal yang memungkinkan itu terjadi.
     Manusia. Ya, manusia. Tidak ada kategori khusus manusia beragama apa, ber-ras apa, dan sebagainya. Hanya satu persyaratannya: Manusia.
     Lalu apa guna agama?
     Guna utamanya adalah untuk mengenal Tuhannya. Bagaimana mungkin seseorang menjadi wakil dari sesuatu yang tidak diketahui dan dikenalnya? Saat itulah agama berperan penting.
     Singkatnya, agama adalah jalan yang harus ditempuh manusia, apapun agama itu namanya, asalkan Ia benar-benar memiliki kemauan untuk menjalani yang sebenar-benarnya hidup.
     Maka jangan terburu-buru marah. Banyak yang kita tidak tahu dibandingkan yang kita tahu. Ingatlah bahwa untuk tahu yang benar kita harus berani untuk salah. Asalkan mau untuk selalu memperbaiki.
     Jika agama sudah jadi merek dan label-label, sebaiknya kita ingat lagi bahwa agama berfungsi sebagai jalan yang ditempuh setiap orang. Jalan-jalan itu bertujuan sama, yaitu Tuhan. Akan ada jalan yang lempeng-lempeng saja, ada yang berbelok, ada yang harus berputar terlebih dahulu, maka jangan sering-sering kita bertengkar.
     Kewajiban manusia hanya berjalan, Tuhan sendiri yang akan menunjukkan rutenya. Belum tentu jalan yang lurus dan mulus akan sampai ke tujuan. Maka kepada mereka yang berjalan berbelok-belok, jangan dulu sombong. Apalagi kepada mereka yang telah lebih lama berjalan daripada kita.
     Bisa saja Tuhan mempercepat jalan siapapun yang Dia kehendaki. Karena Tuhanlah yang menentukan siapa yang sampai dan tidak. Maka tugas kita hanya berjalan dan memohon petunjuk kepadaNya. Kira-kira seperti itu.
   
     Ya Allah, hamba memohon ampun atas ketidaktahuan hamba. Hanya kepadaMu hamba menyembah, dan hanya kepadaMu hamba memohon.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar