Sabtu, 19 Agustus 2017

Angka

Pada kesempatan ini saya akan berbicara tentang angka. Melanjutkan post sebelumnya yang saya beri judul dengan angka-angka, yang ternyata isinya sama sekali bukan tentang angka. Untuk menebus kesalahan, maka kali ini saya akan benar-benar menulis tentang angka, hehe.

Beberapa waktu lalu kebetulan saya menyimak Mas Sabrang yang sedang berbicara panjang lebar. Oh, bagi yang belum tahu siapa Mas Sabrang, mungkin akan lebih familiar di telinga Anda jika beliau saya panggil Noe Letto.

Nah, pada saat itu Mas Sabrang bercerita tentang masa mudanya yang "dibuang" oleh ayahnya (Cak Nun) di Kanada. Mas Sabrang ditantang ayahandanya berkuliah ke luar negeri bermodalkan ketidaktahuan atau sebut saja mbonek (mBondho Nekat 😂). Karena semangat masa mudanya yang masih bergejolak, Mas Sabrang menjawab: siapa takut?

Singkat cerita, selama 5 tahun Mas Sabrang survive di Kanada, bahkan sempat menggelandang selama berbulan-bulan. Dan yang membuat saya kagum adalah beliau berhasil menamatkan kuliahnya dengan dua gelar sekaligus, yaitu Bachelor of Physics dan Bachelor of Mathematics. (Nulisnya bener ngga sih? Hehe. Pokoknya itu lah..)

Mas Sabrang yang saya tahu adalah orang yang sangat cerdas, yang untuk orang seusianya terhitung memiliki banyak pengalaman melalui perjalanan hidupnya yang sangat menarik.

Saat di Kanada itu, Mas Sabrang mengaku pernah jadi atheist, yaitu mengingkari keberadaan Tuhan. Pemikiran masa mudanya yang liar menggiringnya untuk berjalan ke arah itu. Lalu tibalah saat ketika beliau menyadari, bahwa yang membuat dirinya tidak percaya akan keberadaan Tuhan adalah asumsi-asumsinya sendiri yang ternyata salah. Sehingga Tuhan memberinya hidayah melalui ilmu logika yang sangat dikuasainya---matematika.

Kapan mbek ngomong tentang angkanya? Sabaar, mbok ya intro dulu, ojo kesusu.

Dalam salah satu pencariannya, Mas Sabrang bertemu dengan sebuah problem di dunia matematika, yang mirip dengan peristiwa pencarian yang telah beliau alami. Problem di matematika ini bernama Collatz Conjecture.

Collatz Conjeture sebenarnya adalah sebuah mathematical problem yang selama 70 tahun lebih tidak mampu dipecahkan oleh seseorangpun di dunia. Padahal problem matematika ini terlihat sangat sederhana.
Problemnya seperti ini; ambillah satu angka, berapapun angka itu. Jika angka tersebut ganjil, maka kalikan angka itu dengan 3, lalu di tambah 1 (3n+1). Dan jika kemudian menemui angka genap, maka bagilah dengan angka 2. Jika masih menghasilkan genap, maka terus dibagi 2 hingga bertemu dengan angka ganjil. Lalu berlakukan rumus 3n+1 ke bilangan ganjil tersebut. Lakukan berulang-ulang, begitu seterusnya. Dan yang aneh adalah berapapun bilangannya, akan selalu berakhir di angka 1.

Paham ra? Ora paham mbek.

Ya sudah, kita beri contoh. Kali ini saya mengambil angka 7.
Karena 7 adalah ganjil, maka yang berlaku adalah 3n+1, (3x7)+1=22
22 adalah genap, maka dibagi 2 hasilnya 11.
11 adalah ganjil, maka (3x11)+1=34
34 adalah genap, maka dibagi 2 hasilnya 17.
17 adalah ganjil, maka (3x17)+1=52
52 adalah genap, maka dibagi 2 hasilnya 26.
26 adalah genap, maka dibagi 2 hasilnya 13.
13 adalah ganjil, maka (3x13)+1=40
40 adalah genap, maka dibagi 2 hasilnya 20.
20 adalah genap, maka dibagi 2 hasilnya 10.
10 adalah genap, maka dibagi 2 hasilnya 5.
5 adalah ganjil, maka (3x5)+1= 16
16 adalah genap, maka dibagi 2 hasilnya 8.
8 adalah genap, maka dibagi 2 hasilnya 4.
4 adalah genap, maka dibagi 2 hasilnya 2.
2 adalah genap, maka dibagi 2 hasilnya 1.

Kurang lebih seperti itu. Jika Anda mempunyai banyak waktu luang, cobalah dengan angka selain 7. Kalau perlu hingga berdigit-digit. Namun tetap saja, hasil akhirnya adalah angka 1. Itulah Collatz Conjecture.

Oke, lalu hubungannya sama pencarian Tuhan, mbek?

Karena Tuhan itu Maha Tunggal, maka Mas Sabrang mengumpamakan Tuhan adalah angka 1. Sedangkan kita para manusia berakal adalah angka random yang disebutkan di awal tadi. Jika dirimu merasa tak tahu apa-apa, dirimu bagaikan bilangan ganjil. Masih ingat angka ganjil? lipatkan usahamu 3 kali, sambil tetap berpegang teguh bahwa kau akan bertemu dengan Tuhan, dilambangkan dengan ditambah angka 1. 

Namun jika dirimu merasa yakin dan tahu akan semua hal, maka kau adalah bilangan genap. Kesampingkan dulu egomu, bagilah menjadi 2, begitu seterusnya, hingga kau sadar bahwa masih banyak hal yang kau tidak tahu. Maka pada saat itu kau akan kembali menjadi bilangan ganjil yang rendah hati dan selalu berusaha.

Begitulah dialektikanya. Hingga pada akhirnya nanti kau akan bertemu dengan Yang Satu. Siapapun kita, hanya kepada-Nya kita kembali. Inna lillahi wa inna ilaihi roji'un.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar