Sedangkan diriku hanyalah dedaunan kering
Kau sapa, kau tiup, sapuanmu menyenangkan hati
Di titik akhir takdir engkau mendekat.
Menemani.
Namun dedaunan kering adalah takdir renta yang hendak berakhir
Begitu pula kita,
Sejenak menuliskan kisah dengan tinta di permukaan air
Menyibak menggelombang namun tak terbaca
Akulah dedaunan kering
Yang gugur dengan manis,
Seperti senyum bibirmu yang semakin pipih
Samar-samar berbisik hendak pamit pergi.
Maka biarlah.
Dedaunan kering memang harus gugur,
Sedangkan udara akan terus mengisi ruang-ruang kosong di sela-sela semesta.
Aku adalah daun-daun kering,
Yang tak mati, hanya berubah menjadi dan bertransformasi
Lalu tibalah waktunya,
Aku jatuh perlahan
Menari pelan oleh tiupan-tiupan angin rindumu
Maka berakhirlah tugasku.
Kau iringi kepergianku, kepergianmu
Jangan bilang siapa-siapa,
Karena telah kucuri secuil kebahagiaanmu buatku
Maka ku mohon, berpura-puralah seakan-akan kau tak tahu!
Karena akulah dedaunan kering yang tak lagi menuntut apapun darimu.
Ketahuilah, bahagiamu mengawali doa-doaku.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar