Minggu, 20 Agustus 2017

Suasana

Pada umumnya, perilaku seseorang akan sangat mudah terpengaruh oleh suasana hatinya. Terlebih bagi diri saya. Masalahnya, suasana hati pasti dipengaruhi oleh faktor-faktor eksternal. Entah dari sebuah masalah yang menimpa, atau sebongkah genteng yang menimpa. Wkwk su we mbek.

Tapi kalau dipikir-pikir lagi, suasana hati itu letaknya di dalam diri kan ya. Kok bisa-bisanya sebuah peristiwa di luar diri dapat berefek secara spontan ke dalam diri kita. Berarti kan dalam hal ini suasana hati adalah akibat, bukan sebab.

Padahal, masing-masing dari kita pasti punya sistem kontrol diri yang unik satu sama lain. Paling tidak, kita dapat melakukan coping (ceilah coping! bahasane ki lho) terhadap masalah yang dihadapi.

Namun mengapa sebuah akibat justru menyebabkan kekacauan sebegitu besar di dalam diri? Bener kan ya, suasana hati itu akibat? Kok bisa-bisanya bikin saya jadi ngelokro.

Atau mungkin pandangan saya yang terlalu linier. Sebuah akibat tidak melulu menjadi akibat. Bisa saja ia memantul kembali menjadi sebab.

Jika ia memang memantul kembali menjadi sebab, berarti harus ada yang memantulkannya. Lantas siapa yang memantulkan?

Ha yo raimu dewe kuwi mbeeek!

Haha iya juga ya, mungkin teknik coping saya memang kurang ampuh. Mungkin juga kontrol diri saya yang teramat lemah. Sehingga saya malah sering hanyut oleh peristiwa-peristiwa yang sejenak melintas.

Betapa kerdilnya jiwa saya yang kalah oleh cipratan-cipratan suatu masalah. Dan betapa dangkalnya hati saya yang terlalu mudah luber sehingga tak jelas lagi air macam apa yang sebenarnya harus saya pelihara dan tampung.

Andai saja ada yang mau mengajari saya..

Tidak ada komentar:

Posting Komentar