Senin, 25 September 2017

Bubuk lada dan semut

Dadosipun mekaten (jadi begini), saya mau cerita saja. Seperti hari-hari biasanya, setiap sore saya selalu sibuk di dapur. Ya memang nggak sibuk-sibuk amat sih, tapi anggap saja begitu biar saya nggak keliatan nganggur-nganggur banget.

Nah, sore itu saya sedang bikin bumbu buat marinade daging ayam. Saya blender lah itu bawang putih, bawang bombay dan semacamnya. Dan sekadar informasi, saya sering melamun di tengah saya mengerjakan hal tersebut. Karena saking seringnya, maka tangan dan otak seakan auto-pilot melakukannya.

Ketika tiba waktunya memasukkan beberapa sendok bubuk lada, mata saya menangkap ada gerakan-gerakan benda asing di pinggiran mangkuk bumbu. "Oh, semut." Pikir saya.

Maka secara auto-pilot pula, sontak saya menyingkirkan semut tersebut dengan cara---yang dengan ini saya sangat menyesalinya---meniupnya.

Seketika, mak buuul! Bubuk lada yang barusan saya masukkan mubal-mubal kemana-mana. Dan karena saya meniup dengan jarak kira-kira 10 cm, maka sebagian besar bubuk lada masuk ke dalam mata saya.

Rasanya? Cuman seperti kalau kita kelilipan di jalan, tapi yang ini perihnya berkali-kali lipat. Dan panasnya itu lho yang bikin saya nggak tahan. Hampir selama semenit dua menit saya tidak bisa membuka mata. Saya cuma bisa menertawakan kebodohan diri sembari menyeka air mata yang keluar karenamu, eh, maksud saya karena bubuk lada.

Di tengah rasa sakit dan rasa penyesalan yang mendera, untungnya saya masih mampu berpikir normal. Saat saya sudah mulai dapat membuka mata, segera saya menghubungi salah seorang teman dan menanyakan apa yang sebaiknya saya lakukan.

Teman saya yang memang seorang dokter tersebut menyarankan agar segera membasuh mata dengan dialiri air. Mungkin karena terlalu bersemangat, saya celupkan muka saya ke dalam bak mandi dan ternyata cara yang saya lakukan tersebut salah.

Dialiri air. Informasi yang sudah sebegitu jelasnya bisa saja salah tangkap dalam keadaan genting seperti itu. Setelah saya celup ke air justru mata saya malah terasa makin panas. Maka kemudian saya turuti saran teman, saya basuh mata pakai air keran. Teman saya nyuruhnya pakai air aqua sih, tapi masa bodoh, saya sudah tidak tahan.

Setelah beberapa waktu rasa perihnya mulai berkurang. Dan segala puji bagi Allah, mata saya bisa kembali normal walaupun masih sangat panas rasanya. Lalu setelah beberapa jam keadaan berangsur membaik.

Dan dengan kejadian tersebut saya jadi sadar akan kebodohan diri, dan saya juga baru benar-benar yakin seorang teman saya adalah seorang dokter yang kompeten. Maaf selama ini saya meragukanmu! 😄

Hikmah ceritanya? Jangan nyebul semut yang nggremet di bubuk lada!

Tidak ada komentar:

Posting Komentar