Sabtu, 02 September 2017

pengharapan

Kekasih, lalai adalah keistimewaan yang kami patut berbahagia menerimanya.
Tapi sedihlah kami jika tak mampu memberimu rasa bersalah yang menimbun menggunung-gunung. Hingga di kemudian waktu seseorang memberitahu bahwa pemberian kami tak berarti apapun bagimu.

Lalu bagaimana cara mengatasi rasa takut kami, kekasih?
Yang sedang kau timpakan kepada kami adalah hukuman yang kami baru sadar ketika hati terlanjur mengeras bagaikan batu.
Batu-batu itu seketika menggelinding menggilas rasa bersalah yang sedang berusaha kami bangun.
Sedikit demi sedikit. Selalu berakhir hancur.

Lalu bagaimana cara kami memohon iba darimu? Padahal telaga hati kami telah lama menguap dan telah terlanjur mengering.
Langkah kaki kami tertatih-tatih.
Tangan kami meraba-raba semesta kosong yang memang kau jadikan melompong akibat ulah kami sendiri.
Padahal tidak ada semesta yang bukan milikmu.

Dan kekasih, dirimu adalah pemilik dari segala milik. Bagaimana kami mampu memberimu, sedangkan tak tersisa bagi kami sesuatu apapun yang dapat kami miliki?

Afala ta'qiluun, afala yatafakkaruun...
Apakah berbekal yang sedemikian itu cukup bagi kami untuk mengertimu?
Lagi-lagi bagaimana kami bisa mengertimu padahal kami selalu kesulitan untuk hanya dapat mengenalimu?
Terlebih adalah sepenuhnya hakmu yang menentukan apakah kami pantas atau tidak berjumpa denganmu.

Hingga suatu saat kau pernah menawarkan kepada ia yang terkasih:
"Pilihlah di antara salah satu; hidup kekal abadi di dunia beserta surga dan seisinya, ataukah sebuah perjumpaan agung denganku?"
Tentu perjumpaan denganmu adalah tuju dari segala tuju.
Tetapi pantaskah sehelai angin semacam kami mendapatkan penawaran yang setinggi dan semenakjubkan itu darimu, wahai kekasih?

Sesungguhnya tinta-tinta keburukan di seluruh semesta ini tak akan cukup hanya untuk melukiskan gambaran kebobrokan kami.
Pun jika engkau menambahkan lagi semesta yang lain, lalu yang lain lagi, masih tetap tak akan cukup.

Hingga nafas-nafas kami sendiri yang membisiki; yang tersisa bagimu hanyalah pengharapan, wahai makhluk sempurna sekaligus bodoh.
Maka restui kami, ridhoi kami dalam pengarungan di dalam diri kami sendiri. Mengarungi pengharapan yang seringkali terhalang oleh keinginan yang kami bangun dan runtuhkan sendiri.

Jadikanlah setiap jejak kaki kami adalah doa kepadamu dan tiap tetes peluh adalah ridho kami kepadamu. Tak lain adalah sebuah pengharapan atas ridho darimu.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar