Berawal dari nontonin blog ini. Blognya udah kadaluarsa sih tapi masih enak dinikmatin (blog berformalin). Menurut si Empunya Blok Kadaluarsa (selanjutnya disingkat BK), seringlah kita bercermin kepada pendapat orang lain tentang diri kita, atau bercermin kepada orang lain tentang kita. Kebanyakan kita terlalu asyik melenggak-lenggok di cermin milik sendiri. Berasa nyaingin kegantenganku, eh Nabiyullah Yusuf.
Ok kita kesampingkan kesimpulan BK (Biang Keladi) di atas.
Cermin. Kata Bimbo, hati adalah cermin. Kita analogikan seperti itu. Banyak diantara kita salah kaprah, dikiranya hati itu selalu suci, selalu bening kayak cermin. Sebenarnya menurut hemat saya nggak gitu. Dikiranya pikiran yang mengendalikan kita. "I think therefore I am." kalo kata mbah Rene Descartes. Kalau memang begitu, apa beda manusia dengan anjing, kucing, sapi, kerbau, dan bahkan bayi manusia? Padahal manusia dibilang makhluk sempurna. Apanya yang sempurna? Jika benar apa yang dikatakan mbah Rene, para hewan di atas adalah teman sebangku manusia di kelas. Aneh. Lucu.
Kita bagi manusia menjadi 3 bagian; hati (kalbu, di dada), akal (di ubun-ubun), dan pikiran (kepala atau otak). Dan satu lagi sebagai variabel adalah nafs atau syahwat (di perut dan bawahnya). Untuk kedudukannya adalah; akal dan syahwat (input) -> hati (wadah inti) -> pikiran (output).
Yang pertama hati. Hati adalah pertapa. Hati diam. Kita ibaratkan waduk. Waduk akan keruh jika terkontaminasi kotoran-kotoran (input), cermin akan buram jika debu dibiarkan menempel terlalu lama. Hati adalah pengendali, hatilah yang berkehendak. Kemudian disalurkan ke otak. lalu otak menerjemahkan dan mendistribusikan ke tubuh untuk tugas selanjutnya.
Yang kedua pikiran. Pikiran adalah mesin. memperoleh tugas dari hati dan melaksanakannya. Sering juga kita terlalu ruwet dengan pikiran sendiri. Padahal, bagi yang mengerti, pikiran dapat bekerja secara auto-pilot. Tinggal serahkan ke pikiran sebelum tidur, pagi kita sudah mendapat jawabannya. Tapi hal ini tergantung tingkat kesadaran kita. Tergantung seberapa jauh akal yang diperjalankan pada diri kita.
Yang terakhir adalah akal. Akal bersifat suci. Akal adalah kepanjangan bersit cahaya Allah yang ada pada setiap ubun-ubun manusia. Cahaya Allah memancar tegak lurus ke langit. Sesekali dengarkan ucapan Allah pada surat yang artinya cahaya. Disitu Allah menjelaskan secara indah dan gamblang. Bagaimana seharusnya manusia mengelola hidupnya. Akal akan membeningkan cermin. Membersihkan hati. Sehingga akhlaknya terpuji, perilakunya indah.
Nafs dan syahwat. Yang menghuni bagian perut dan bawahnya inilah yang mengotori hati. Jika nafs yang dominan, maka perilakunya akan kacau, hidupnya tidak akan tenang. Nafs diibaratkan api yang jika tidak dikendalikan akan membakar apapun. Hati-hati jika bermain api. Kendalikan! jangan dimatikan :)
Lalu bagaimana cara menjernihkan hati? Mintalah kepada Tuhanmu! akal adalah kepunyaanNya. Maka dekatkan diri kepadaNya, Dia yang akan mendekatimu. Ridholah kepada Allah, pokoknya manut Allah apapun yang ditimpakan kepada kita. Jangan sibuk mencari ridhoNya, maka Dia yang akan ridho kepadamu.
Semoga Allah tidak marah kepada kita. Dan kita selalu dalam limpahan cinta KekasihNya. Amin.
Aduh aku kesel, asu tenan kok yo ilang tulisanku haha. Sudah dulu gays, samlekum!
Tidak ada komentar:
Posting Komentar