Ah ibu, anakmu sedang bersedih hati. Tapi jangan engkau hibur aku, ibu. Relakan anakmu. Tuhan merencanakan untukku sesuatu. Tak pernah aku sungguh-sungguh mengerti. Aku hanya meyakini.
Ibu, kita selalu percaya, Tuhan takkan pernah meninggalkanku.
Oh ibu, aku tahu. Tidak pernah sekalipun dirimu memohon kepada Tuhan untuk menjadikanku anakmu. Yang akhir-akhir ini anakmu baru sadar jika dirinya tak lebih baik dari setan itu sendiri. Tapi kau tak pernah menolakku, ibu, kau selalu mengajariku. Namun aku mohon ibu, untuk kali ini biarkan Tuhan sendiri yang mengajariku tidak melalui lembutnya hatimu.
Ibuku, Tuhan sedang memoles hatiku yang membatu. Agar mengkilap menjadi cermin yang jernih seperti ketulusanmu.
Doakan aku, ibu. Meskipun nanti di dadamu aku tumpahkan kesedihanku.
Tuhanku,
jika memang untuk hal ini
aku harus berpuasa,
Bagaimana hamba berani
menentangMu?
Mulanya,
kukira mata air itu bermuara di dekapanMu
Namun sayang, baru aku ceburkan sebelah kakiku,
hanya gurun yang Engkau
tampakkan di mataku.
Kering.
Gersang.
Air pun tak sudi menyapaku.
Apakah harus ku keruk
lebih dalam lagi, Tuhan?
Ataukah harus aku putar haluan?
Kemudiku hancur.
Aku hilang arah.
Tuhanku,
satu hal yang aku yakini: inilah lingkaranMu.
Keinginanku bukanlah kehendakMu
sedangkan Engkau pemilik segala ketetapan.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar