Sabtu, 06 Agustus 2016

Pencapaian tertinggi

     "Saya tidak anti-kemajuan, atau malah anti-teknologi," aku meneruskan, "perlu diingat, bahwa fungsi dasar kemajuan teknologi berupa gadget-gadget dan seterusnya itu adalah hanya sebagai alat bantu, membikin praktis, hanya memudahkan."
     "Betul itu." sahut Si Hati.
     "Tetapi jangan hal-hal itu malah jadi substitusi dari intuisi dasar mereka. Lama-lama mereka berubah serupa dengan robot-robot. Ya memang canggih. Tetapi panca indera mereka copot, diganti dengan tangan-kaki cyborg, bahkan kepala mekanik. Yang mereka dikontrol dengan console jarak jauh. Siapa yang mengontrol? Tentu para pemilik kepentingan. Dengan mudahnya para pemilik kepentingan itu menggiring robot-robot bebek itu kesana-kemari. Mereka memang semakin pintar. Tapi tak lebih pintar dari kambing-kambing gembala yang masih bisa rewel ketika musim kawin tiba."
     "Bukannya sampeyan juga sering memanfaatkan teknologi-teknologi itu?"
     "Ya, memang. Tetapi berkali-kali aku mengatakan. Semua hal ada porsi dan konteksnya."
   
     Aku menggeser dudukku, karena warung yang kami singgahi mulai ramai. Sebagai kere yang tahu diri, kami beringsut ke tempat paling pojok.

     "Sejatinya, manusia juga mempunyai software yang jauh lebih canggih daripada kemajuan IT yang mereka agung-agungkan. Mereka bukannya tidak tahu, mereka hanya lupa, bahwa software-software pada gadget mereka adalah buah atau produk dari perangkat lunak pikiran-pikiran manusia. Mana yang lebih canggih? yang menciptakan apa yang diciptakan?"
     "Ya lebih canggih sampeyan, Bro."
     "Lha kok bisa?"
     "Ya sampeyan ini canggih. Sampeyan itu ngomong seakan-akan sampeyan pakar teknologi, seakan-akan sampeyan aktivis humanis senior. Sampeyan itu siapa? Padahal sampeyan cuma kere yang buat makan sekali sehari pun susah. Alam pikir sampeyan melanglang buana kesana kemari. Padahal sampeyan itu bukan siapa-siapa. Apalagi sampeyan kalau bukan canggih." Si Hati meledekku.
     "Telek, malah ngejekin."

     Hari mulai menginjak sore. Aku merasa tidak enak berlama-lama singgah di tempat itu. Aku yakin sang pemilik warung sebenarnya sama sekali tidak keberatan jika aku berlama-lama numpang duduk di situ. Kapan lagi bisa menyantuni kaum dhuafa tanpa harus repot-repot pergi ke panti. Hehehe

     Kami kembali melangkah setelah berterima kasih dan berpamitan kepada Ibu pemilik warung.

     "Bro."
     "He? kenapa?"
     "Nggak jadi..."
     "Ra cetho, ada apa sih? bilang saja."
     "Akhir-akhir ini kok sampeyan jadi keras."
     "Keras bagaimana?"
     "Sampeyan tudang-tuding sana-sini. Sampeyan berontak kepada peristiwa-peristiwa yang terjadi. Jangan-jangan, sampeyan udah mulai merasa paling benar?
     "Bukan begitu, sahabatku. Aku hanya berpendapat. Dan sialnya, kamu yang jadi keranjang dari pendapat-pendapat sampahku. Untuk hal ini aku meminta maaf.
     "Dimaafkan."
     "Tetapi, apa yang aku utarakan belum tentu benar, Aku sendiri berkeyakinan semua yang aku ucapkan salah. Bahkan mungkin suatu saat aku sendiri yang membantah apa yang pernah aku ucapkan."
     "Lha kenapa masih saja diucapkan. Aneh."
     "Ya nggak apa-apa to. Namanya juga berjalan mencapai kebenaran."
     "Pencapaian ya. Apakah sampeyan tahu apa itu 'pencapaian tertinggi'?"
     "Ketika kita sampai ke tempat yang kita tuju? Ke wilayah yang kita cari?"
     "Bukan itu, Bro. Itu juga pencapaian, tetapi bukan puncak dari pencapaian."
     "Jangan berbelit-belit gitu."
     "Begini, pencapaian tertinggi adalah ketika seseorang tak pernah berhenti mencari, tak pernah berhenti berusaha, tak pernah berhenti menjalani."
     "He'eh, terus?" aku penasaran.
     "Dan karena dia sibuk dengan pencarian itu sendiri, dia tak sadar kalau telah mencapai apa yang semula ia tuju. Dia akan mencapai titik yang tinggi dan akan semakin tinggi, atau lembah rendah yang semakin rendah. Dia mencari kebenaran secara kontinyu. Dan lama-lama ialah yang menjadi kebenaran itu sendiri. Itulah peristiwa mencari kebenaran sejati. Sebuah pencapaian tertinggi."
     "Ooo ya ya ya. Kok aku kayak sering menjalani hal itu. Bahkan aku perlu sering-sering mengingat apa tujuan awalku. Ngomong-ngomong kenapa kamu tahu hal-hal semacam itu?"

     Aku heran kenapa Si Hati berpikiran cemerlang seperti ini.

     "Dewa Ruci yang memberitahuku."
     "Jangan bohong."
     "Loh sampeyan tadi ndak sadar siapa yang tiduran di sebelahku? Saat kita di warung tadi."
     "Diampuuut, orang tua necis tadi? Kenapa kamu tidak memberitahuku?"
     "Beliau sendiri yang meminta. Beliau ingin mendengar dulu perkataanmu."
     "Dasar Eyang ..."

1 komentar:

  1. Komentar ini telah dihapus oleh administrator blog.

    BalasHapus